Tuesday, April 17, 2018

Ikan Lele Menyebabkan Kanker?

Peneliti mengatakan bahwa ikan lele bisa tercemar zat karsinogenik karena dibudidayakan di perairan yang sudah tercemar berbagai jenis polutan atau kotoran. Peneliti mengambil ekstrak ikan lele yang tumbuh di perairan yang sudah sangat tercemar kemudian ekstrak ini disuntikkan pada sel-sel kanker payudara di laboratorium. Hasilnya setelah disuntikkan dengan ekstrak ikan lele yang tercemar, ternyata sel-sel kanker tersebut tumbuh jadi berlipat ganda.

Kadar estrogen lele yang terlalu tinggi di tubuh memang diketahui bisa meningkatkan risiko kanker payudara. Ikan lele yang diuji oleh tim ahli ini diambil dari perairan yang sudah tercampur limbah pabrik dan limbah manusia. Akan tetapi, sebenarnya bukan ikannya yang berbahaya melainkan tempat tinggalnya yang sudah tercemar.

Lele merupakan ikan yang mengandung berbagai nutrisi penting bagi tubuh seperti protein, asam lemak omega-3 serta vitamin B kompleks. Lele itu sendiri sebenarnya tidak mengandung racun atau zat berbahaya yang sifatnya memicu kanker (karsinogenik) dalam tubuh manusia. Akan tetapi, sejumlah penelitian mengungkapkan bahwa ikan lele tertentu memang bisa meningkatkan risiko kamu diserang kanker jika diletakkan di perairan yang tercemar.


Ikan tersebut mengandung vitamin yang bermanfaat bagi kesehatan serta jenis ikan konsumsi yang bergizi. Protein dalam lele sangat banyak yaitu sekitar 10 – 15 g protein terdapat pada dagingnya. Tubuh kita membutuhkan protein dalam jumlah tersebut. Apalagi jika merawat dan memelihara ikan lele di tambak, sudah tentunya akan memberikan protein untuk tubuh kita dan sudah pasti tidak menyebabkan kanker. Nah ada satu lagi vitamin yang penting untuk tubuh dari ikan tersebut yaitu sumber vitamin D terbaik yang bermanfaat untuk kesehatan tulang.

Kesimpulannya adalah penyebab kanker tidak akan ada kalau lele dipelihara di tempat standar perawatan yaitu di tempat bersih dan makanan yang di dapat dari prabrik yang jelas nutrisinya. Untuk mengolahnya harus dicuci menggunakan air bersih yang terbebas dari limbah sebelum dimasak. Selain itu, kamu juga harus membuang dulu kulit ikan lele sebelum diolah jadi masakan. Masalahnya kulit ikan biasanya paling mudah tercemar oleh zat-zat polutan di perairan kotor.

Untuk pengolahan, biasanya ikan ini sering digoreng. Namun kebanyakan orang menggunakan minyak jelantah untuk menggoreng ikan lele, mereka menggunakan minyak goreng secara berulang-ulang. Minyak goreng yang digunakan secara berulang-ulang sampai warnanya hitam pekat akan menyebabkan penyakit kanker. Jadi, sebenarnya bukan hanya ikan lele yang hidup di perairan tercemar saja yang menyebabkan kanker, makanan apapun jika di goreng dengan menggunakan minyak jelantah akan menyebabkan sel kanker dalam tubuh manusia.

Budidaya Ikan Lele

Lele atau ikan keli adalah sejenis ikan yang hidup di air tawar. Lele mudah dikenali karena tubuhnya yang licin, agak pipih memanjang serta memiliki “kumis” yang panjang yang mencuat dari sekitar bagian mulutnya. Nah, kalau mau menangkap ikan ini, hati-hati ya karena lele memiliki patil yang bisa buat kamu demam.

Ikan ini sering sudah dibudidayakan secara komersial oleh masyarakat Indonesia terutama di Pulau Jawa. Budidaya lele berkembang pesat dikarenakan dapat dibudidayakan di lahan dan sumber air yang terbatas dengan padat dan teknologi budidaya relatif mudah dikuasai oleh masyarakat, pemasarannya relatif mudah dan modal usaha yang dibutuhkan relatif rendah.

Pengembangan usaha budidaya ikan lele semakin meningkat setelah masuknya jenis ikan lele dumbo ke Indonesia pada tahun 1985. Keunggulan lele dumbo dibanding lele lokal antara lain tumbuh lebih cepat, jumlah telur lebih banyak dan lebih tahan terhadap penyakit. Sedikitnya terdapat 55–60 spesies anggota marga Clarias diseluruh dunia. Dari jumlah itu, di Indonesia kini diketahui belasan spesies lele, beberapa di antaranya baru dikenali dalam 10 tahun terakhir.

Kegunaan Ikan Lele

Banyak jenis lele yang merupakan ikan konsumsi yang disukai orang. Sebagian jenis lele telah dibiakkan orang, namun kebanyakan spesiesnya ditangkap dari populasi liar di alam. Lele dumbo yang populer sebagai ikan ternak, sebetulnya adalah jenis asing yang didatangkan (diintroduksi) dari Afrika.

Lele dikembangbiakkan di Indonesia untuk konsumsi dan juga untuk menjaga kualitas air yang tercemar. Seringkali lele ditaruh di tempat-tempat yang tercemar karena bisa menghilangkan kotoran-kotoran. Lele yang ditaruh di tempat-tempat yang kotor harus diberok terlebih dahulu sebelum siap untuk dikonsumsi. Diberok itu ialah maksudnya dipelihara pada air yang mengalir selama beberapa hari dengan maksud untuk membersihkannya.

Kadangkala lele juga ditaruh di sawah karena memakan hama-hama yang berada di sawah. Lele sering pula ditaruh di kolam-kolam atau tempat-tempat air tergenang lainnya untuk menanggulangi tumbuhnya jentik-jentik nyamuk.

Habitat dan perilaku lele

Lele tidak pernah ditemukan di air payau atau air asin, kecuali lele laut yang tergolong ke dalam marga dan suku yang berbeda (Ariidae). Habitatnya di sungai dengan arus air yang perlahan, rawa, telaga, waduk, sawah yang tergenang air. Bahkan ikan lele bisa hidup pada air yang tercemar, misalkan di got-got dan selokan pembuangan.

Ikan lele bersifat nokturnal, yaitu aktif bergerak mencari makanan pada malam hari. Pada siang hari, ikan lele berdiam diri dan berlindung di tempat-tempat gelap. Di alam, ikan lele memijah pada musim penghujan. Walaupun biasanya lele lebih kecil daripada gurami umumnya,namun ada beberapa jenis lele

Nama-nama Lele

Lele, secara ilmiah terdiri dari banyak spesies. Tidak mengherankan pula apabila lele di Nusantara mempunyai banyak nama daerah. Antara lain: ikan kalang (Sumatera Barat), ikan maut (Gayo), ikan seungko (Aceh), ikan sibakut (Karo), ikan pintet (Kalimantan Selatan), ikan keling (Makassar), ikan cepi (Sulawesi Selatan), ikan lele atau lindi (Jawa Tengah) atau ikan keli (Malaysia), ikan 'keli' untuk lele yang tidak berpatil sedangkan disebut 'penang' untuk yang memiliki patil (Kalimantan Timur).


Di negara lain dikenal dengan nama mali (Afrika), plamond (Thailand), gura magura (Srilangka), dan 鲇形目 (Tiongkok). Dalam bahasa Inggris disebut pula catfish, siluroid, mudfish dan walking catfish. Nama ilmiahnya, Clarias, berasal dari bahasa Yunani chlaros, yang berarti ‘lincah’, ‘kuat’, merujuk pada kemampuannya untuk tetap hidup dan bergerak di luar air.

5 Jenis Ikan Lele yang Bisa di Budidayakan di Indonesia

Lele atau ikan keli, adalah sejenis ikan yang hidup di air tawar. Lele mudah dikenali karena tubuhnya yang licin, agak pipih memanjang, serta memiliki "kumis" yang panjang, yang mencuat dari sekitar bagian mulutnya. 

budaya ikan lele

5 jenis ikan lele yang populer dibudidayakan oleh peternak lele :

1. Lele Dumbo

Lele dumbo diperkenalkan di Indonesia dari Taiwan pada tahun 1985. Pertumbuhan ikan lele ini lebih cepat daripada ikan lele lokal dan efisiensi untuk pakan juga lebih tinggi serta dapat dipijah sepanjang tahun. Nah buat para penikmat dan pecinta lele, rasa daging lele dumbo teksturnya lembek dianggap masih kalah dengan lele lokal.

2. Lele Sangkuriang

merupakan hasil perbaikan genetik lele dumbo yang dilakukan oleh Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Tawar (BBPBAT). Kelebihan dari lele sangkuriang adalah jumlah telur yang lebih banyak. 
Lele sangkuriang jika dibandingkan dengan lele dumbo memiliki masa pertumbuhan yang cepat lele dengan panjang 2-3 cm membutuhkan waktu sekitar dua puluh harian untuk mencapai panjang 5-6 cm.
Sementara itu, lele dumbo membutuhkan waktu sekitar  tiga puluh hingga empat puluh harian.

3. Lele Phyton

Ikan Lele Phyton memiliki kepala mirip kepala phyton, sungut dan ukuran tubuh lebih panjang, dan ekornya lebih bulat. Kelebihan dari ikan lele ini adalah tahan cuaca dingin, sehingga survival rate mencapai 90%.

4. Lele Mutiara

Pertumbuhan lebih tinggi 10-40% dari benih lele lain dan toleransi lingkungan tinggi (suhu 15-35oC, pH 5-10) Benih ikan lele Mutiara mencapai ukuran 6 - 10 ekor/kg dan dapat dipanen dalam jangka waktu 2 - 3 bulan. Lalu sintasan lebih tinggi. Benih ikan lele Mutiara tidak mengalami kematian benih pada tahap awal pemeliharaan, dan sampai akhir pemeliharaan dihasilkan sintasan sekitar 60 – 80 %.

5. Lele Lokal

Lele spesies Clarias batrachus ini adalah lele asli perairan Indonesia. Dagingnya gurih tidak banyak lemak namun kelemahannya adalah pada pertumbuhannya yang relatif lambat dari jenis lele yang lain. Kelemahannya, pertumbuhannya lambat sehingga FCR-nya pun tinggi. Untuk mencapai 500 gram, lele lokal butuh waktu hingga 1 tahun.